Langsung ke konten utama

Krisis Budaya Etika di Indonesia

Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang memiliki penduduk ke-4 terbanyak di dunia. Didalamnya tersimpan keanekaragaman suku dan budaya. Keanekaragaman itu tercipta dari hasil pola pikir manusia. Lalu, pola pikir itu diseimbangkan lagi dengan tiga unsur utama pembentuk diri manusia, yaitu etika, moral, dan akhlak. Semua unsur tersebut berada pada diri kita dan menjadikan kita sebagai ‘manusia yang sebenarnya’, yaitu manusia yang memiliki akal dan pikiran.
Otak manusia telah diciptakan Allah SWT dengan sangat sempurna dan menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling beradab di muka bumi. Tapi, apakah kita sebagai manusia sudah menggunakan otak itu dengan sempurna? Apakah penyebabnya?
Teknologi masa kini berkembang sangat pesat. Sosial media berbasis internet atau online sudah menjadi ‘makanan pokok’ manusia masa kini. Tidak kurang dari 5,5 jam per harinya orang Indonesia menggunakan internet dan sosial media, terutama kalangan remaja. Berbagai macam informasi sudah tidak sulit lagi didapatkan dan hanya dengan sekali sentuhan, semua dapat terlihat.
Sosial media saat ini semakin banyak dan masyarakat Indonesia menjadi ‘pecandu’ terbesar di dunia. Tidaklah aneh teknologi sekarang malah membuat orang semakin berpikir ‘sempit’ karena efek kecanduan tersebut. Padahal teknologi seharusnya dapat membuka wawasan menjadi lebih luas. Seperti yang terjadi belakangan ini dimana berita-berita yang tersebar luas langsung ditelan mentah-mentah tanpa dipilah lagi. Pemikiran orang seakan semakin dangkal akibat percaya terhadap satu hal yang sebenarnya menyesatkan. Pro dan kontra menjadi berlebihan. Seakan-akan internet atau sosial media hanyalah sumber utama dari segala sumber yang ada.
Seperti yang sudah disinggung di awal, apakah kita sebagai manusia sudah menggunakan otak itu dengan sempurna. Dari segala kejadian yang ada belakangan ini, jawabannya adalah tidak. Pengetahuan dan pengalaman yang belum banyak membuat orang berpikir tidak secara luas. Tanpa analisis, tanpa ada filter. Pendidikan mungkin bisa menjadi faktor utama dimana pendidikan merupakan salah satu faktor pembentuk pribadi dan pemikiran seseorang. Sehingga hal-hal yang seharusnya tidak baik malah ditelan begitu saja. Tidak adanya pendidikan untuk orang tersebut membuat mereka tidak bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Mereka tidak lebih dari orang yang hanya sekedar ‘ikut-ikutan’. Jika dibandingkan dengan orang yang dididik dengan baik, sungguh perbandingannya sangat jauh.
Semua hal itu bisa dilihat dari segi penyampaian atau pengungkapan pendapat. Orang yang dididik misalkan. Mereka pasti memilih suatu berita atau hal lainnya yang kredibilitasnya baik dan tidak percaya begitu saja terhadap suatu berita dari sumber lain. Kalau mereka pro atau kontra, apa yang diungkapkannya adalah hasil analisis dari pengetahuan yang mereka dapat selama ini. Mereka ungkapkan dengan bahasa yang baik, jelas, dan sopan. Lain halnya dengan orang yang ibaratnya ‘kurang terdidik’. Di saat mereka menemukan suatu hal atau berita yang bikin heboh, mereka tidak memilah kembali dan langsung menganggap berita itu adalah berita yang sangat benar. Mereka tidak menganalisis lagi berita tersebut dan terkesan ‘ikut-ikutan’ dengan kehebohan berita tersebut. Lalu, disaat mereka pro dan kontra, mereka ungkapkan pendapat dengan bahasa yang sangat tidak baik dan masih terkesan ‘ikut-ikutan’ tanpa ada pendapat dari diri mereka sendiri. Ungkapan pendapat mereka seolah-olah mereka adalah orang yang menjadi korban atau terlibat langsung dengan masalah yang diberitakan tersebut. Selain itu, pengungkapan pendapat mereka yang ‘kurang terdidik’ seakan-akan harus dipercaya oleh semua orang. Apabila tidak dipercaya, mereka akan menganggapnya sebagai ‘musuh’ yang benar-benar harus dimusuhi. Mereka tidak lagi mengutamakan etika dan moral dalam proses mengungkapkan pendapat. Hanya hinaan dan makian yang keluar dari hasil pemikiran tanpa otak.  Mereka hanya mengandalkan nafsu dan emosi yang dapat membuat cara berpikir kita menjadi ‘gagal’.
Sekarang, sulit membedakan mana kritikan mana hinaan. Mana pendapat mana makian. Kata-kata kotor sudah sangat mudah digemakan. Tanpa dipilah. Tanpa dipikir. Etika dan moral terkesan seperti ‘barang bekas’. Tidak terpakai kembali. Seakan Indonesia saat ini sedang dilanda krisis. Krisis Etika dan Moral. Padahal, Indonesia merupakan negara yang sangat berbudaya di dunia. Etika dan moral menjadi hal yang paling diutamakan kepada generasi penerus. Lalu, kemanakah etika dan moral bangsa ini? Seperti yang sudah saya singgung, pendidikan menjadi faktor utama penentu kepribadian dan pemikiran manusia. Pendidikan etika moral seakan hilang ditelan bumi. Revolusi mental seakan hanya sekedar wacana belaka. Orangtua seharusnya menjadi pendidik utama dalam mendidik anaknya dengan etika dan moral. Tapi, semua itu sudah tergantikan dengan teknologi. Mereka hanya mengandalkan teknologi sebagai sumber atau cara utama mendidik anak. Padahal kesalahan dalam mendidik dapat berakibat fatal di masa depan.
Etika moral seakan menjadi pendidikan nomor kesekian. Padahal etika moral merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan sosial. Kedewasaan menjadi cara lain untuk menyadari itu semua. Introspeksi diri bisa menjadi jalan. Akhlak dapat dijadikan sebagai penyempurna etika dan moral. Remaja tetap harus dididik. Dididik etika dan moralnya. Karena mereka pintu utama. Pintu utama masa depan Indonesia. Pro kontra sudah menjadi hal yang biasa belakangan ini. Perdebatan menjadi jalan antar perbedaan. Etika dan moral tetaplah harus dipakai. Yang menjadi gambaran penting dunia melihat Indonesia. Pendidikan etika moral tetap harus ditegakkan sebagai pembentuk karakter bangsa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Cinta, Kasih, dan Sayang

Manusia merupakan makhluk sosial yang sangat bergantung pada orang lain. Dalam ketergantungannya dengan orang lain, manusia mempunyai sifat natural, yaitu cinta dan kasih. Cinta dan kasih menjadi landasan bagi manusia dalam menjalin berbagai macam hubungan. Selain cinta dan kasih, rasa sayang juga sangat penting untuk menyempurnakan hubungan antar manusia. Namun, apakah sebenarnya arti dari kata cinta, kasih, dan sayang? Cinta menurut KBBI berarti suka sekali;sayang benar. Menurut istilah, cinta adalah emosi yang berasal dari rasa kasih sayang yang kuat dan rasa tertarik terhadap suatu objek. Cinta sebenarnya memiliki banyak arti. Tergantung dari sudut pandang kita. Arti cinta juga menjadi sebuah misteri yang sangat sulit untuk dipecahkan. Karena pengalaman tidaklah cukup untuk menerjemahkan arti cinta yang sebenarnya tanpa merasakan cinta itu sendiri. Cinta bukanlah suatu hal untuk dipermainkan. Karena cinta kita tahu arti dari rasa ingin berkorban untuk orang lain dan lain sebagai...

MANUSIA DAN KEADILAN

1.        Pengertian Keadilan Keadilan  adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut sebagian besar teori, keadilan memiliki tingkat kepentingan yang besar. John Rawls, filsuf Amerika Serikat yang dianggap salah satu filsuf politik terkemuka abad ke-20, menyatakan bahwa "Keadilan adalah kelebihan ( virtue ) pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran" . Tapi, menurut kebanyakan teori juga, keadilan belum lagi tercapai: "Kita tidak hidup di dunia yang adil" . Kebanyakan orang percaya bahwa ketidakadilan harus dilawan dan dihukum, dan banyak gerakan sosial dan politis di seluruh dunia yang berjuang menegakkan keadilan. Tapi, banyaknya jumlah dan variasi teori keadilan memberikan pemikiran bahwa tidak jelas apa yang dituntut dari keadilan dan realita ketidakadilan, karena definisi apakah keadilan itu sendiri tidak jelas. keadilan intinya adalah meletakk...